oleh

Pasangkayu Selangkah Lagi Bebas Malaria

Pasangkayu  Kabupaten pasang kayu adalah satu-satunya kabupaten di provinsi Sulawesi Barat yang saat ini belum mendapatkan sertifikat eliminasi malaria.

Untuk menyiapkan kabupaten Pasangkayu menuju sertifikasi eliminasi malaria maka Fakultas Kedokteran UNHAS, UNICEF dan Dinkes Kesehatan Provinsi Sulbar melakukan pendampingan persiapan sertifikasi eliminasi malaria kabupaten Pasangkayu. Pendampingan ini dilaksanakan melalui penyelenggaraan Focus Grup Discussion (FGD)  Lokakarya FGD ini di gelar pada hari Kamis. 27 pebruari 2020. Di ruang pola trisakti, dengan tema menuju sertifikasi Eliminasi malaria Kabupaten Pasangkayu yang di hadiri OPD yang terkait dan di pandu oleh dr. Joko FK Unhas Bersama sekertaris Dinas kesehatan Ibu Amalia Anwar S. Km.

Pertemuan yang di maksud, melibatkan Dinas Kesehatan,  Puskesmas se-Kabupaten Pasangkayu, lintas sektor terkait dan juga masyarakat di kabupaten Pasangkayu.

Kegiatan FGD eliminasi malaria telah dilakukan di Desa Wulai, Kecamatan Bambalamotu dan Desa Pakawa, Kecamatan Pasangkayu (25-26/02/2020). Kedua desa tersebut dipilih karena pada tahun 2017 ditemukan kasus terakhir penularan setempat di Kabupaten Pasangkayu. Walaupun dalam dua tahun terakhir tak lagi ditemukan adanya kasus malaria yang di maksud di dua desa ini, namun kewaspadaan terhadap malaria perlu di tingkatkan karena migrasi masyarakat di desa yang berbatasan dengan kabupaten Sulawesi Tengah ini cukup tinggi. Migrasi yang  tinggi ini terutama berasal dari komunitas suku Da’a yang beberapa di antaranya masih mempunyai kultur nomaden serta mempunyai hubungan kesukuan yang sangat dekat dengan suku Da’a yang berdiam di wilayah Sulawesi tengahDalam kegiatan FGD yang dihadiri perangkat desa, para kepala dusun, bidan desa, tokoh agama, babinsa dan Puskesmas disepakati untuk bersama-sama mencegah kejadian penularan lokal dengan memaksimalkan surveilans malaria migrasi berbasis masyarakat. Hal ini berarti masyarakat terlibat aktif dalam melaporkan dan mengedukasi pendatang dari daerah endemik atau pelintas batas untuk mau memeriksakan diri pada patugas kesehatan. Diagnosis, pemeriksaan dan pengobatan yang cepat diharapkan bisa memutus penularan lokal, apalagi dari hasil penelitian Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar, nyamuk anopheles sebagai vaktor malaria masih banyak di temukan  di kabupaten Pasangkayu.

Secara umum kejadian malaria di kabupaten Pasangkayu sudah sangat jauh menurun dibandingkan tahun 90 atau awal tahun 2000-an dimana saat itu masih bisa ditemukan ribuan kasus malaria. Intervensi intensif dari dinas kesehatan dengan pendampingan UNICEF telah dengan drastis menurunkan kasus malaria hingga tidak lagi ditemukan kasus malaria lokal. Kasus malaria lokal terakhir ditemukan tahun 2017 yang lalu.  Pada tahun 2018 tinggal 8 kasus malaria, dan 5 kasus pada awal tahun 2020 ini ditemukan di kabupaten Pasangkayu. Semua kasus tersebut semuanya adalah kasus impor yang dibawa pendatang, terutama dari Papua dan Kalimantan Timur.

Untuk menindaklanjuti kegiatan FGD yang telah dilakukan, maka hari kamis (28/2) dilakukan pertemuan lintas sektoral di Hotel Trisakti Pasangkayu dengan menghadirkan kelompok kerja eliminasi Malaria kabupaten Pasangkayu yang terdiri dari unsur pemerintah kecamatan, kepala Puskesmas dan OPD terkait seperti Dinas PU, PMD, Kominfo, Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan serta klinik-klinik perkebunan sekabupaten Pasangkayu.

Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk menguatkan kordinasi dan kerja lintas sektoral untuk menyukseskan kabupaten Pasangkayu Eliminasi Malaria 2020. Beberapa hal yang akan ditindaklanjuti yakni adanya regulasi terkait dengan surveilans migrasi di tingkat kecamatan hingga ke tingkat desa. Kedua menguatkan surveilans malaria 1-2-5, dimana setelah ditemukan kasus malaria, hari kedua sudah harus dilakukan penyelidikan epidemiologi dan hari ke-5 sudah harus dilakukan tindakan. Hal ini juga telah disepakati oleh klinik-klinik perkebunan sawit  termasuk kerjasama terkait laporan ke Puskesmas dan Dinas Kesehatan.

Sekertaris Dinas Kesehatan kabupaten Pasangkayu, Ibu Amalia Anwar, SKM, M.Kes dalam kegiatan lokakarya tersebut menyampaikan kegembiraannya terhadadap antuasiasme semua sektor di Kabupaten Pasangkayu untuk mengeliminasi malaria dari wilayah mereka.

“Dengan upaya lintas sektor ini, kami optimis bahwa kabupaten Pasang Kayu bisa bebas Malaria pada tahun 2020. Dan tentunya ini sebuah pencapaian besar untuk mendukung Provinsi Sulawesi barat bebas Malaria di Indonesia” ungkap Amalia Anwar

Tahapan sertifikasi eliminasi malaria di kabupaten Pasangkayu akan dimulai dengan penilaian awal yang akan dilakukan oleh Dinas Kesehetan Provinsi pada sekitar bulan April 2020 untuk selanjutnya dimajukan ke Kemenkes jika memenuhi syarat pada September 2020. Besar harapan kita bersama bahwa kabupaten Pasang kayu berhasil mendapatkan sertifikasi eliminasi malaria tahun ini.

Sumber   : Kamlan, Dinas Kominfo                           pasangkayu

Pimpred/Editor  : M Jasman S Pali