oleh

Saluraiya Kembali Memanas,Karyawan Pemanen Kelapa Sawit,PT.Pasangkayu,Di Kawal Polisi

pasangkayu,SULBARNews.com – Kasus sengketa lahan antara masyarakat ada suku Bunggu (Topo Daa) dengan perusahaan sawit PT. Pasangkayu anak perusahaan Astra group hampir tidak ada putusnya.

Perselisihan keduanya ibarat seperti musim gelombang air laut. Kadang tenang, kadang pula bergelora. Juga ibarat seperti musim panas dan kemarau. Ada banjir dan ada pula kekeringan

Kali ini perselisihan antar keduanya kembali mencuak. Entah apa pemicunya, yang pasti kini masing-masing pihak saling klaim dan saling tuding.

Hari ini Selasa, 4 September 2019 sekitar pukul 10 wita, masyarakat adat saluraiya nyaris saja bentrok dengan aparat kepolisian. Pemicunya berawal dari adanya aktivitas perusahaan PT. Pasangkayu yang melakukan pemanenan buah sawit di blok 1,2,3&4, yang selama ini diduduki masyarakat saluraiya selama kurang lebih 4 tahun, paska replanting.

Aktivitas pemanenan oleh karyawan PT. Pasangkayu dibawah pengawalan polisi hendak dihentikan masyarakat saluraiya. Situasi sempat memanas dan terjadi saling dorong antar masyarakat dengan aparat, kerena beberapa warga mengamuk lantaran tak terima perusahaan melakukan pemanenan di blok tersebut.

Terlihat masyarakat yang melakukan protes, tidak hanya didominasi laki-laki melainkan sejumlah ibu-ibu bahkan anak-anak juga ikut kelapangan.

Dalam aksi protes dilapangan (dilokasi sawit red) warga meminta perusahaan menghentikan aktivitas pemanenan di 4 blok yang selama ini mereka duduki. Mereka juga meminta untuk tidak selalu melibatkan aparat.

“Kami minta perusahaan menghentikan kegiatan ini. Jagan selalu bawa polisi dan tentara setiap ada masaalah dengan masyarakat” kata Ije di depan para polisi yang berjaga mengamankan.

Ditemu terpisah di saluraiya, salah satu warga bernama Ifan mengaku kesal atas tindakan perusahaan yang melibatkan aparat dilapangan. Ia meminta agar perusahaan segera mengembalikan tanah adat mereka “Kami minta perusahaan segera mengembalikan tanah adat kami. Di dalam area yang kami duduki selama 4 tahun ini, itu terdapat kuburan orang tua kami, Jadi kami minta perusahaan dan pemerintah mengembalikan tanah-tanah itu”. Pungkasnya.

Untuk di ketahui, beberapa waktu lalu masyarakat adat Saluraiya melakukan pertemuan dengan sejumlah stakeholder. Namun pertemuan itu tak mendapat respon baik dari pemerintah maupun dengan perusahaan.

(Jasmanbaras)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed